Hikayat Prang Sabi di Aceh

Kategori

TIDAK gampang mengukur dampak Hikayat Prang Sabi pada semangat juang pejuang Aceh selama saat kolonial Belanda. Bagaimana juga, berdasar pada beberapa kasus yang terdokumentasi, Hikayat Prang Sabi mengakibatkan pembaca serta pasukannya tergerak untuk berperang serta ketakutan mereka hilang. Insiden-insiden pertarungan yang terkait dengan pembacaannya, banyak komentar mengenai dampak Hikayat Prang Sabi yang terasa sangat yang dikatakan beberapa tokoh yang tertarik serta sarjana-sarjana, serta kecemasan-kecemasan Pemerintah Belanda karena peredaran hikayat akan diberikan di tulisan ini.

Walau tidak semua korban yang dijelaskan bisa dibuktikan dikarenakan oleh pembacaan Hikayat Prang Sabi, dampak dibanding Hikayat Perang Suci begitu dahsyat, hati yang capek bisa dipulihkan, semangat yang kendur bisa dikobarkan kembali. Dalam kata lainnya, Tgk Chiek Pante Kulu sudah sukses membakar semangat juang pejuang Aceh yang sudah kehabisan tenaga lewat karya terkenalnya Hikayat Prang Sabi semenjak 1881.

Berkenaan dengan itu, HC Zentgraaf memvisualisasikan efeknya, seperti diambil oleh Ali Hasjmy, di bawah ini: “Menig jong man zette de eerste schreden op het oorlogspad onder den machtigen indruk dier lectuur op zijn emotioneele ziel. Zeer gevaarlijke lectuur (Banyak pemuda pertama terjun ke medan tempur sebab dampak hebat dibanding karya sastra ini [Hikayat Prang Sabi] yang menyentuh perasaan mereka. Satu karya yang begitu beresiko).”

Terkait : hikayat

Telah dilupakan
Berdasar pada hasil satu interviu dengan Tgk H Musa (almarhum), seseorang tokoh tua di Ulee Glee, Pidie Jaya, Aceh, pada 28 Pebruari 2016, Hikayat Prang Sabi saat ini telah dilupakan oleh generasi muda Aceh serta kita susah temukan hikayat itu tersebar saat ini. Saat perang kolonial, beberapa orang yang melalui belakang satu meunasah dimana umumnya anak muda habiskan malamnya, bisa dengar seseorang pemuda membaca Hikayat Prang Sabi beralun-alun sekalian berbaring.

Bagaimana juga, di waktu perseteruan pada Pergerakan Aceh Merdeka (GAM) serta Pemerintah Republik Indonesia beberapa waktu waktu lalu, seseorang pemuda coba mengulang-ulang waktu lantas dengan membaca hikayat itu. Ma’nu, seseorang pemuda di Aceh Utara menjelaskan, “bulu romaku bangun sesudah saya membaca Hikayat Prang Sabi.” Ia memikirkan pengalaman yang dihadapi orang Aceh saat perang kolonial. Seseorang sejarawan Australia, Anthony Reid, memvisualisasikan epik populer itu yang dibuat oleh ulama pada 1880-an menjadi suatu yang mengerikan serta sukses memengaruhi jiwa pejuang Aceh. Seseorang penulis Indonesia, Hamidy, menggambarkan jika “.. Keliatannya Hikayat Perang Sabi memiliki daya tarik seperti besi berani, sebab ia nyatanya dapat memunculkan semangat jihad ke hati...”

Menurut Ali Hasymy (1914-1998) dalam bukunya Hikayat Perang Sabi Menghayati Perang Atjeh Lawan Belanda, pada 11 Mei 1904, sekitar 95 wanita serta anak-anak dibunuh oleh orang Belanda dalam pertarungan di Penason; 51 wanita serta anak-anak meninggal pada 18 Mei 1904 di Tumpeng; 248 di Kuta Reh; 316 di Kuta Lengat Baru. Mereka memandang akan bahagia serta menunggu dengan senang untuk nikmati kemewahan-kemewahan di surga, karena mereka mati dalam jihad fisabilillah.

Karya sastra perang ini bukan sekedar memengaruhi orang menjadi grup, tapi sebagai individu. Terdaftar jika dalam satu malam, seseorang lelaki yang seringkali dipanggil Leem Abah, masyarakat kampung Peurada, Kemukiman Kayee Adang, Sagoe XXVI (saat ini Kecamatan Syiah Kuala) dengar samar-samar dan dengar dengan serius seorang tengah membaca Hikayat Prang Sabi. Besok pagi mendekati fajar ia sudah ke Peukan Aceh (Banda Aceh) persis di muka Societeit Atjeh Club (saat ini Balai Teuku Umar), dimana Leem Abah tidak diduga menyerang seseorang Belanda persis pada dadanya dengan rencong yang ia menyembunyikan di lipatan bajunya sampai orang Belanda itu wafat. Momen ini berlangsung pada 1907.

Sesudah perang Aceh-Belanda (1873-1914) dipandang tuntas oleh orang Belanda, banyak serangan pada Belanda masih tetap dilancarkan oleh orang Aceh dengan perseorangan lelaki atau wanita di kota-kota yang awal mulanya telah dipandang damai dan aman. Kondisi semacam itu begitu mengagetkan pemerintah Hindia Belanda hingga pemerintah kolonial di Batavia kirim penasehat masalah orang pribuminya, R.A Kern, pada 1921 ke Aceh untuk mengusut kejadian pembunuhan beberapa orang kafir, poh kaphe dalam bahasa Acehnese (Atjehmoord dalam bahasa Belanda).

Dalam kurun waktu 1910-1921 saja, sekitar 99 orang Belanda terserang serta 12 dari mereka meninggal, bekasnya alami luka serius. Kern dalam laporannya ajukan alasan jika pembunuh terinspirasikan oleh kedengkian pada beberapa orang kafir serta pada intinya digerakkan oleh semangat Perang Suci.

Artikel Terkait : teks pidato dunia pendidikan

Berikan motivasi pejuang
Pada April 1924, beberapa penduduk Daya di Aceh Barat berencana untuk menyerang satu bivak (perkemahan) Belanda di Lamno. Sebelum menyerang bivak itu, calon kombatan dengarkan Hikayat Perang Sabi yang dibacakan pada mereka untuk menghidupkan semangat mereka. Akan tetapi, serangan ini bisa ditaklukkan oleh tentara Belanda. Orang Belanda meyakini jika Hikayat Prang Sabi begitu beresiko sekali, sebab dia bisa berikan motivasi beberapa pejuang menantang orang Belanda.

Oleh karenanya, teks-teks hikayat itu diambil alih serta umumnya dari mereka dihilangkan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda demikian kuatir mengenai efek Hikayat Perang Sabi, hingga dalam surat rahasianya yang di kirim Gubernur Hindia Belanda di Aceh ia menulis jika ia suka membaca laporan mengenai keadaan politik di Aceh saat paruh pertama 1926, karena laporan itu menjelaskan jika tiga kembali Hikayat Prang Sabi sudah diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Lalu, dalam surat rahasianya ia mengatakan jika usaha-usaha penelusuran Hikayat Prang Sabi selalu digerakkan, karena oleh karena dampak beresiko yang diakibatkan oleh hikayat itu.

Hikayat itu seringkali dibaca di depan pejuang Aceh yang pergi ke medan perang. Bagaimana juga, diprediksikan jika hikayat itu pun dibaca saat peperangan kecil-kecilan (hostilities), atau istirahat di medan juang, seperti ditulis oleh Nur’ainy Ali (1997): “...War leaders too, seemed to carry out copies of the hikayat with them. The hikayat was often used to boost up the spirits of the fighters when situations were difficult and spirits were low. Once the Acehnese had heard the Hikayat Prang Sabi or heard it recited, their spirits were aroused, they felt a compulsion to commit themselves in the battle. The hikayat was able to stimulate the emotions of its readers and listeners and influence their perception on life and death.”


Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
 

Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

削除
Hikayat Prang Sabi di Aceh
    Komentar(0)